Melayani Tepung Premix Donat Enak Empuk Halal ala DKU sudah dipakai di Malaysia Brunei Singapore. Juga melayani kursus aneka kue ke seluruh Indonesia & luar negeri. Hubungi Rosidah Donat DKU PinBB: 27EFF200, Hp:0858-5035-8188 / 0852-5798-9119 / 0812-5281-1788/0819-1313-6088. Mohon Tidak Copy-Paste Isi Blog ini Tanpa Se-Izin dari Pemilik Blog Donat Kampung Utami - DKUDONUTS. Blog DKU Donuts ini selalu posisi No.1 versi Google Search Indonesia (google.co.id) untuk kata kunci "DONAT INDONESIA".

Tuesday, January 22, 2008

Jiwa Bisnis Itu Bukan Dari Genetika

Saya akan buktikan kepada dunia bahwa jiwa bisnis itu bukan dari genetika. Adalah saya, dididik dan dibesarkan pada lingkungan akademis. Garis genetika pun, jika ditarik ke atas, tidak terdapat aliran jiwa bisnis ataupun wirausaha. Masa kecil saya dihadapkan pada setumpuk buku-buku. Sederetan buku bahasa, filsafat, novel, puisi, jurnal, artikel, majalah, komik, dan bacaan ringan lainnya. Menghiasi hampir seluruh ruangan rumah. Mungkin pas dengan peran ayah saya sebagai guru bahasa Indonesia. Sedangkan ibu saya sebagai ibu rumah tangga biasa, yang suka memasak dan bikin kue.


Demikianlah hingga saya lulus kuliah tahun 1995. Saya lalui hidup saya begitu saja dengan setumpuk bacaan ringan. Ada satu bacaan yang sangat saya suka, sebuah novel, Para Priyayi, karya Umar Kayam [almarhum Th.2002]. Novel ini setidaknya juga memberikan warna pada aspek kepribadian saya. Sebagai wanita Jawa, wanita Indonesia. Sedangkan tentang akademis, saya melaluinya tanpa ada prestasi. Sepanjang perjalanan studi, ada pelajaran yang membuat saya semakin pusing mendengarnya. Matematika. Nilai matematika hampir nyaris 100% merah. Nilai nol sampai enam menghiasi selama studi saya. Pelajaran matematika bisa membuat saya mendadak gemetaran dan serangan sesak nafas. Saya juga sangat trauma dengan pelajaran tentang sudut dan navigasi. Yang hingga kini, saya pun masih tidak memahami apa arah mata angin. Saya hanya tahu arah barat (kiblat, khusus di Indonesia), karena hanya ke sana saya biasa menghadap.


Untuk menghindari pelajaran berhitung, saya ingin memilih studi sastra saja. Tapi ternyata, tidak dibolehkan oleh orang tua. Apalagi jurusan kejuruan tataboga, lebih tidak direstui. SMA jurusan ilmu sosial akhirnya sebagai pilihan. Sebuah pilihan karena tidak ada pilihan lain. Syukurlah, melalui Umptn saya diterima jurusan Public Administration, Universitas Brawijaya, Malang, tahun 1991. Sebuah jurusan yang sangat sedikit mengandung mata kuliah berhitung. Pun di jurusan ini, tidak ada mata kuliah memasak. Tidak matching dengan hobby saya. Tapi, di kampus inilah saya mulai belajar logika. Dan dari almamater ini-lah saya mendapat inspirasi cara berhitung sederhana, tidak lebih. Saya mulai bisa memahami resep dan menghitung gramasi bahan kue. Tapi saya masih belum bisa bagaimana cara menghitung prosentase.


Hobby memasak, sejak awal mengalir dari ibu saya kepada diri saya. Demikianlah, ketimbang saudara-saudara perempuan saya. Sejak usia muda (SMP), saya sudah berani mimpi besar, ingin punya resto terkenal atau usaha bidang kuliner. Rosi muda sebenarnya juga selalu ingin mengikuti kursus memasak. Tapi, sampai sekarang keinginan kursus itu belum pernah terlaksana. Pun akhirnya, kesukaan memasak, menggambar, dan melukis-lah yang telah menghantarkan saya mempunyai jiwa seni memasak. Jiwa inilah akhirnya terpatri sangat dalam pada diri saya. Hingga akhirnya, Saya melukiskan imajinasi saya melalui hiasan pada donat kampoeng.


Di Jombang, saya tinggal setelah dewasa. Saya pun akhirnya bisa sangat memahami karakter konsumsi masyarakat Jombang. Kali pertama donat kampoeng utami launching, saya focus pada pasar menengah-bawah. Saya berangkat dengan kesungguhan dan fokus. Saya hanya punya modal kerja awal Rp 100.000,-, kemauan, semangat, kerja keras, dan konsisten. Melayani tidak pernah berhenti. Pun sampai sekarang, saya masih tidak tahu makna kerja cerdas. Seperti yang dikatakan oleh banyak motivator ternama. Saya memberikan pelayanan kepada semua masyarakat yang ingin berkelas, namun dengan dana minimum. Harga Rp 500,-. Keputusan harga yang sangat berani dan sangat berisiko. Harga mati untuk produk donat kampoeng buatan saya. Sehat, berKelas, terMurah. Tapi, jangan tanya keuntungan finansial yang saya peroleh. Minus, Nol, atau justru Plus sangat besar? Semua orang, boleh menghitung keuntungan saya, atau justru merugi? The Long Tail adalah inspirator saya. Saat ini, walaupun donat kampoeng utami disukai semua lapisan masyarakat, justru masyarakat kelas menengah-atas yang lebih dulu merespon dengan kesungguhan statemen; "Bahwa produk donat kampoeng utami sebagai salah satu produk bermutu dan termurah di kelasnya". (ros*).

Google Search