Melayani Tepung Premix Donat Enak Empuk Halal ala DKU sudah dipakai di Malaysia Brunei Singapore. Juga melayani kursus aneka kue ke seluruh Indonesia & luar negeri. Hubungi Rosidah Donat DKU Sms/WA 0858-5035-8188. Mohon Tidak Copy-Paste Isi Blog ini Tanpa Se-Izin dari Pemilik Blog Donat Kampung Utami - DKUDONUTS. Blog DKU Donuts ini selalu posisi No.1 versi Google Search Indonesia (google.co.id) untuk kata kunci "DONAT INDONESIA".

Sunday, December 02, 2007

Perkembangan DKU, Dilema Antara Karakteristik Masyarakat dan Tuntutan Perubahan

Suatu saat, pada masanya saya yakin bahwa diantara para blogger dan media akan mencatat perjalanan saya, dan bagaimana peran saya dalam meramaikan dunia blogging. Sejarah akan mencatat pula bahwa saya adalah orang pertama yang menjual donat kampung online seharga Rp 500 saja”.

Di kota Jombang, sebuah kota yang sepi dan tenang. Perputaran makro ekonominya standar saja. Tidak banyak investasi industri di kota ini. Sumber kehidupan lebih banyak di sektor pertanian, perdagangan, dan jasa. Ya, saya telah mengamati dan memahami, bagaimana karakteristik masyarakat disini. Saya adalah seorang penjual donat kampung dan kue tradisional pertama yang mempromosikan karya-karya saya melalui internet. Tentu saja, peran media cetak juga telah ikut memperkuat segmen pelanggan DKU. Sehingga sekarang DKU menjadi lebih berkelas.

Dilihat dari sumber ekonominya, dapat diprediksi bagaimana kararter orang Jombang . Bagi sebagian orang, ada yang mengatakan tidak muda untuk mengais rejeki di Jombang. Lihat saja para pemuda di usia produktif. Mereka yang biasa nongkrong di tempat-tempat strategis. Lebih banyak dan cenderung memilih warkop dan PKL yang relatif lebih murah, ketimbang makan di cafe dan restoran. Ya, pola hidup hemat telah terbentuk. Bagian dari dampak positif dari siklus makro ekonomi lokal yang terpola secara sederhana, konsisten dan terus-menerus. Mungkin, lebih tepat lagi, jika dikatakan sebagai pola hidup hati-hati agar bisa survive.

Tidak banyak loncatan investasi strategis yang bisa menyerap banyak padat karya. Terutama di sektor industri menengah-besar. Toko-toko di sepanjang jalan utama yaitu Jalan Merdeka, Jalan A.Yani, dan Jalan Wahid Hasyim akan berlomba-lomba untuk tutup pada jam 8 malam. Apalagi jalan-jalan lainnya, tentu saja bisa dibayangkan sepinya. Wisata kota untuk hiburan dan rekreasi lokal yang bisa kami kunjungi hanyalah kebonrojo dan alon-alon. Dengan Rp 2.000,- kita sudah bisa menikmati kopi / teh dan gorengan. Ya, gorengan yang harganya sama dengan donat DKU, Rp 500-an. Sangat sederhana, tapi kami bisa hidup dan bisa mendapatkan inspirasi.

Pun akhirnya, saya mendapat inspirasi. Saat ini ada satu hal yang tidak mungkin, tapi saya telah mengubahnya menjadi mungkin. Saat semua orang belum memikirkannya, saya telah berani mengawali. Menjual donat kampung Rp 500-an secara online. Donat sehat dan nikmat, lengkap dengan kemasan plastik silky (bening-mengkilat) serta berlabel DKU.

Media Cetak, Sempurnakan Segmen DKU


Ringin Contong, sebagai simbol ikon jantung kota Jombang ikut memberikan warna pada perkembangan DKU. Setiap pelanggan luar kota, selalu menanyakan pada saya. "Apakah DKU dekat dengan Ringin Contong"? Saya selalu menjawab bahwa DKU berjarak 100 meter ke arah barat dari Pabrik Gula Jombang Baru.


Pertengahan tahun 2007, saya pun mulai menyadari. Bahwa peran media cetak sangat penting bagi kemajuan bangsa ini. Termasuk pula untuk kemajuan seorang penjual donat kampoeng seperti saya. Media cetak telah memberikan aura positif terhadap donat kampung buatan saya. Adalah berawal dari keinginan Sampoerna (Dji Sam Soe) dan Radar Mojokerto membantu mengangkat UKM-IKM di Jombang. Saya dan donat kampoeng buatan saya juga akhirnya terpilih layak dimuat di berita JawaPos - Profil UKM-IKM kabupaten Jombang. Setelah dimuat di Radar Mojokerto, donat kampung buatan saya ini menjadi sangat diminati oleh semua kalangan. Termasuk diantaranya adalah para pejabat di lingkungan Muspida kabupaten Jombang.

Berlanjut pada Agustus 2007, profil DKU dimuat Jawa Pos. Isi beritanya adalah Sukses Donat Kampoeng Utami di pameran GPJ 2007. Sebanyak 5.000 donat batik buatan saya habis terjual, diserbu pengunjung dalam 3 malam pameran. Sejak itu, nama DKU menjadi sangat dikenal di kota Jombang. Bahkan diantara pelanggan, telah membawa karya-karya saya sebagai oleh-oleh khas kota Jombang. Tak lupa tabloid nasional juga mengundang saya. Pada September 2007, saya diwawancarai oleh wartawan Nakita. Dan dimuat di berita Tabloid Nakita dengan judul “Kemana Belanja Kue Lebaran?”. Sejak ini, pesanan kue kering pun banyak dari luar kota, bahkan luar pulau.


Pada Oktober 2007, saya tidak menyangka bahwa tamu yang datang adalah wartawan. Orang itu datang untuk membeli donat. Namanya Temmy E, Yustian. Sedang melakukan perjalanan dari Surabaya menuju Nganjuk. Saya menyapanya dengan mas Temmy. Saat saya tanya, Dia mengetahui DKU dari blogspot ini. Kami pun akhirnya asyik ngobrol dan nyantai. Dan sambil menikmati donat kampung dan minuman yang saya sediakan. Tak lupa sesekali kami diskusi ringan. Seputar masyarakat dan makanan khas Jombang. Setelah 2 jam, beliau pamit melanjutkan perjalanan ke Nganjuk bersama temannya. Dan tentu juga membeli donat kampung untuk oleh-oleh. Saya tidak menyangka, karena beberapa hari kemudian saya dikabari mas Temmy. Profil DKU telah dimuat di Koran Surya, kolom WarteG edisi 2 Nopember 2007. Sejak itu nama DKU semakin dekat dengan masyarakat di Jawa Timur.


Dari berita Koran Surya, saya dihubungi oleh Pak Rian, atau biasa disapa pak Hari, begitu katanya. Beliau adalah wartawan Tabloid Ritel. Saya pun tanya pada teman-teman, karena saya belum pernah mendengar tabloid ini. Saya akhirnya ikut alur saja untuk wawancara dengan Pak Rian. Sungguh diluar perkiraan saya, karena catatan perjalanan saya dan Donat Kampoeng Utami ditulis exclusive dan lengkap sebanyak 2 halaman di kolom Profil. Saya mengetahui setelah profil saya dimuat. Ternyata Tabloid Ritel adalah satu group dengan perusahaan Alfamart.


Ini kali pertama, profil lengkap saya, seorang penjual donat kampoeng online Rp 500, ditulis di media cetak nasional. Dan dapat dibaca di Tabloid Ritel Alfamart. Edisi: 005 – Desember 2007, halaman 20-21. Potongan artikel dan profil saya, bisa di klik atau dibaca online di menu Publikasi di blogspot ini. Harapan saya, semoga profil saya bisa menjadi inspirasi bagi pengusaha makanan tradisional yang lain di seluruh Indonesia.

Google Search