Melayani Tepung Premix Donat Enak Empuk Halal ala DKU sudah dipakai di Malaysia Brunei Singapore. Juga melayani kursus aneka kue ke seluruh Indonesia & luar negeri. Hubungi Rosidah Donat DKU PinBB: 27EFF200, Hp:0858-5035-8188 / 0852-5798-9119 / 0812-5281-1788/0819-1313-6088. Mohon Tidak Copy-Paste Isi Blog ini Tanpa Se-Izin dari Pemilik Blog Donat Kampung Utami - DKUDONUTS. Blog DKU Donuts ini selalu posisi No.1 versi Google Search Indonesia (google.co.id) untuk kata kunci "DONAT INDONESIA".

Wednesday, February 04, 2009

Donat Kampung Jombang Indonesia Kelas Dunia, Harga Murah, Rasa Mewah

Dikutip dari : Nova Online, Jumat 30 Januari 2009
Nova Edisi Cetak : 26 Januari 2009, page: 42-43

Donat Kampung Masuk Kota, Harga Murah, Rasa Mewah

Usaha yang digawangi Rosidah Widya Utami (35) ini, kelihatannya sepele. Ia "cuma" berjualan donat kampung seharga Rp 500. Tapi soal rasa? Tak kalah wah dengan yang dijual di mal-mal. Kini, donat produksinya sudah singgah ke kota-kota besar. Bahkan dijual di luar negeri.

Donat Kampoeng Utami (DKU), demikian Utami menamai dagangannya. Dengan harga Rp 500 dan cara promosi memanfaatkan fasilitas blog, DKU asal Jombang dikenal luas. Malah, donat jenis premium buatan Utami, juga sudah diproduksi dan dijual di beberapa gerai mewah -- --------.


Memperkenalkan produknya hingga ke Mancanegara, diakui Utami tidaklah mudah. Delapan tahun Sarjana Fakultas Ilmu Administrasi Univeritas Brawijaya ini melakukan riset demi menemukan formula yang pas untuk membuat donat berkualitas.

Kecintaan Utami pada tata boga memang sudah terbangun sejak remaja. Adalah sang ibu yang

menularkan kemahiran memasak padanya. Cinta itu terus berlanjut sampai ke perguruan tinggi dan ketika mulai bekerja di perusahaan sepatu di Jombang. "Saya menerima pesanan kue dari teman-teman kantor. Pokoknya, saya cinta sekali dengan dunia boga. Meski seharian sudah capek bekerja, tapi kalau ada pesanan kue, rasa pegal itu hilang," imbuhnya.

Akhirnya, setelah menikah, Utami putar haluan. Dia berhenti kerja dan membuka toko kelontong di rumah. Selain memberikan hasil, ia merasa bisa lebih fokus mengurus anak. Kembali "jiwa boga"nya memanggil-manggil. Alhasil, ia menutup toko kelontong dan sebagai gantinya, "Saya jualan kue. Fokusnya jualan donat."

Utami memilih donat bukan tanpa alasan. "Meski bukan asli makanan Indonesia, tapi donat dikenal kalangan masyarakat atas sampai bawah."

Pakai Label

Awalnya, utami melakoni hampir segalanya. Mulai membuat hingga menjual, dilakoninya sendiri. Berhubung belum tahu teknik pemasaran yang bagus, donatnya hanya dijajakan ke sekolah TK, tempat pengajian, bazar, sampai dititipkan di tukang sayur keliling. "Bagi saya, yang penting laku. Apa pun caranya," katanya.

Hasilnya? "Jauh dari harapan." Hampir setiap hari, antara yang terjual dan sisanya, selalu lebih banyak sisa. "Padahal, menurut saya, donat buatan saya murah, enak, dan bersih. Saya juga heran, kok, enggak laku." Di tengah kebingungan, muncul ide segar. Bersamaan dengan ditemukannya nama yang pas, Donut Kampoeng Utami, produknya dikemas secara menarik, diberi label yang berisi alamat lengkap dengan nomor telepon plus layanan SMS. "Label, kan, ibarat kartu nama. Dari 100 buah donat yang terjual, logikanya, 100 orang jadi tahu nama dan alamat tempat tinggal saya."


Benar saja. Telepon di rumahnya terus berdering. Sebagian memesan, lainnya sekadar tanya harga. "Bagi saya, tak masalah. Yang penting, orang sudah kenal DKU," kata Utami yang sejak itu banyak komunitas ibu-ibu pengajian di Jombang memilih donat bikinannya sebagai suguhan.

Singkat cerita, DKU makin populer. Bisa dibilang, jadi ciri khas oleh-oleh Jombang. Selain rasanya enak, harganya pun murah, yakni Rp 500 per buah! "Buat saya, jual kue di mal dan laku, itu wajar. Tapi bagaimana caranya menjual kue buatan kampung tapi bisa laku, itu yang jadi tantangan," ujar Utami.


Rambah Dunia Maya

Lantas apa lagi yang dilakukan Utami? Ia mulai memasuki dunia maya, membuat blog. "Setiap kegiatan saya mengembangkan usaha, saya tulis." Di sisi lain, ia juga meningkatkan kualitas dan melakukan inovasi. Utami tak lagi sekadar membuat donat kampung standar bertabur gula halus seharga Rp 500, melainkan juga aneka varian. Ada donat rasa stroberi dan melon yang dibandrol Rp 1.000, atau donat cokelat dan keju seharga Rp 2.000.

Donat varian baru ini dinamainya donat premium. Tak mudah menemukan formula donat jenis ini. Secara kualitas, rasanya tak kalah dengan donat kelas mal, tetapi harganya jauh lebih murah. Untuk bisa menciptakan donat dengan rasa istimewa, ia perlu waktu cukup panjang dan tak jarang mengalami kegagalan. Kini donat premium Utami dalam proses hak paten.

Agar tidak merusak pasar, Utami tak memasarkan produk premiumnya ini di sembarang tempat. "Sengaja tak diproduksi secara massal, sebab bahannya memang pilihan dan harganya di atas yang sudah ada. Untuk itu, saya sengaja menawarkan pada investor yang berminat untuk mengembangkan," tutur Utami yang pernah mendapat kunjungan 40 orang ibu (pengusaha) ---- --------.


Dilirik Investor Asing

Usaha Utami tidak sia-sia. Beberapa bulan lalu, datang seorang investor ---- -------- yang mengetahui kiprahnya lewat blog. Setelah bertemu, sang investor minta dibuatkan satu paket donat premium yang diinginkan. "Ternyata cocok. Saya dan keluarga lalu diminta -- ------- untuk teken kontrak kerjasama." Selain itu, sambungnya, selama tiga bulan -- -------- , Utami juga diminta untuk mengajari para karyawan soal ilmu membuat donat.

Utami berkisah, sekarang produk donat tersebut sudah besar sekali -- -------- . "Sudah punya tiga cabang besar dan mewah dengan nilai investai milyaran rupiah," kata Utami sambil bertutur, setiap bulannya dia mendapat royalti cukup besar dari investor tersebut.


Masih menurut Utami, sebenarnya dia tidak akan menyerahkan formula donat tersebut kepada pengusaha asing andai saja ada investor lokal yang berminat mengembangkannya. Utami merasa, pengusaha Indonesia sepertinya justru lebih tertarik membeli karya dari orang asing ketimbang karya bangsanya sendiri.


"Orang kita lebih senang membeli franchise yang berasal dari luar negeri. Padahal, orang kita bisa, kok, membuat donat selezat buatan luar negeri. Nyatanya, karya saya sekarang sejajar dengan buatan luar negeri," ujar Utami sambil menjelaskan, -- -------- harga donat "temuan"nya itu dijual sekitar Rp 5 ribu.


Diundang Mengajar

Keinginan Utami, saat ini terus melakukan eksperimen untuk mencari formula donat yang lebih istimewa lagi, sekaligus berharap ada investor lain lagi yang mengajak kerjasama, mengembangkan. Akibat kesuksesannya, Utami juga sering diminta beberapa perguruan tinggi untuk member materi kewirausahaan.

Kendati sudah berhasil menciptakan donat kelas premium, namun untuk keseharian Utami tetap memproduksi donat kelas standar yang dijual dirumah atau secara pesanan. Untuk saat ini, Sembilan puluh persen terjual secara pesenan, sedangkan selebihnya membeli langsung di toko kuenya yang menempati sisi kanan rumahnya. Minimal 500 donat kampong ia produksi per hari. Nah, siapa tertarik berbisnis donat? Semangat Utami ini bisa menjadi cambuk yang bermanfaat.


Gandhi Wasono M.
Foto: Gandhi Wasono M./NOVA, Dok.Pribadi

Dikutip dari : Nova Online, Jumat 30 Januari 2009

Google Search