Melayani Tepung Premix Donat Enak Empuk Halal ala DKU sudah dipakai di Malaysia Brunei Singapore. Juga melayani kursus aneka kue ke seluruh Indonesia & luar negeri. Hubungi Rosidah Donat DKU PinBB: 27EFF200, Hp:0858-5035-8188 / 0852-5798-9119 / 0812-5281-1788/0819-1313-6088. Mohon Tidak Copy-Paste Isi Blog ini Tanpa Se-Izin dari Pemilik Blog Donat Kampung Utami - DKUDONUTS. Blog DKU Donuts ini selalu posisi No.1 versi Google Search Indonesia (google.co.id) untuk kata kunci "DONAT INDONESIA".

Tuesday, November 11, 2008

Agar Dikenal, Jual Donat Kampung Tak Perlu Marketing

Di Jombang, Indonesia, Saya melayani sepotong donat Rp 500 untuk memenuhi keinginan para pelanggan. Tidak Lebih, karena saya hanya bisa berfikir sederhana. Agar dikenal, melayani sepotong donat kampung Rp 500, tak perlu marketing. Saya-pun tak berjualan donat di pasar, mall, ataupun di pusat keramaian lainnya, seperti halnya yang dilakukan oleh kebanyakan orang dan toko donat dan roti (donuts & bakery shop).

Hanya saja, saya selalu berpartisipasi mendukung pemerintah kabupaten Jombang
dalam setiap kegiatan expo atau pameran. Hal ini sebagai wujud keseriusan DKU untuk ikut serta membangun Jombang di bidang makanan oleh-oleh khas Jombang. Meski mikro, foto disamping (atas) merupakan bentuk partisipasi DKU dalam Gelar Potensi Jombang (GPJ) 2008, yang digelar tanggal 22-26 Oktober 2008 di alon-alon kota Jombang. Antusias pengunjung di stan DKU menggambarkan bahwa donat kampung buatan DKU sangat digemari semua lapisan masyarakat Jombang. Saya bukan menjual donut, tetapi saya lebih ingin memahami keinginan orang-orang yang datang pada saya.


Saya tak memenuhi "kesempurnaan" konsep marketing mix 4P (product, price, place, promotion), karena merk donat kampoeng utami (DKU) saya bangun layaknya di sebuah kedai kecil di perkampungan. DKU bukan berada di pusat keramaian. Saya juga sempat baca buku marketing mix, malah menjadikan saya bingung. Karena donat kampong buatan saya justru diburu pelanggan, meskipun tak memenuhi konsep “place” anjuran marketing mix. Saya-pun juga tak mengerti, mengapa donat kampung dan kedai itu memberikan daya tarik dan aura luar biasa kepada banyak orang.


Saya-pun tak mampu menerjemahkan konsep STP (Segmentation, Targeting, dan Positioning) yang selalu di bahas oleh pakar marketing dan akademisi di meja seminar, media cetak, tv, dan lembaga pendidikan dengan investasi seminar jutaan rupiah. Donat kampung buatan saya seperti tak memerlukan STP, karena siapapun dan dari segmentasi manapun merasa puas mendapatkan donat kampong buatan saya. Kedai DKU juga bukan toko bakery, karena tak memenuhi standar minimal sebagai bakery shop. DKU merupakan rumah donat sederhana di kampong, di pinggiran kota di Jombang.


Saya-pun tak memenuhi standar pelayanan pesan antar. Sehingga semua pesanan donut kampong harus di ambil sendiri oleh pelanggan di kedai DKU. Karena menurut keyakinan saya, layanan 'pesan antar' adalah pemborosan energi yang sama sekali tidak signifikan terhadap peningkatan penjualan. Tapi, saya melayani dengan hati kepada orang-orang yang datang pada saya untuk mendapatkan donat murah kualitas mall, yang mungkin tak boleh didapatkan di tempat lain di seluruh dunia sekalipun. Komunitas pelanggan loyal DKU, lebih banyak memahami bahwa donat kampung DKU sudah menjadi bagian dari kebutuhan dalam kehidupan mereka.


Kalaupun pada masanya, DKU berada di lokasi pusat keramaian, bukan berarti saya ingin memenuhi konsep marketing mix. Tapi, pelanggan-lah yang selama ini menginginkan DKU berlokasi di pusat keramaian. Insya Allah, saya yakin Donat Kampoeng Utami, pada masanya akan melakukannya. (Ditulis di Butterworth).

Google Search